Ganti Background Blog Ini!





Get Widget




Minggu, 29 Juni 2014

TUGAS FILSAFAT PENDIDIKAN


Tugas Kelompok

FILSAFAT PENDIDIKAN
Misteri Bahasa: Dari Makna Ke Teori

 

      Di susun oleh : kelompok III
                             Sri Ratu Istana                10540 6524 11
                             Rina Wahyuningsih        10540 6525 11
                             Kasmawati                      10540 6526 11
                             Asrawati Asri                  10540 6527 11
                             Ardillah                           10540 6528 11
                             Nur Aulia Reski              10540 6552 11

JURUSAN PGSD S1
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014

MISTERI BAHASA:
Dari Makna Ke Teori
Meraba Pemikiran Filsafat
Bahasa biasa secara akademik dikaji oleh linguistik, filologi, dan antropologi dengan fokus perhatian masing-masing yang berbeda. Tugas filsafat bahasa adalah antara lain menjelaskan hakikat “mengetahui” bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan konsep demi suksesnya penguasaan bahasa. Pentingnya mempelajari (filsafat) bahasa karena bahasa memang memiliki keterbatasan. Seorang filsuf pasti memiliki pemikiran jauh lebih luas dari apa yang bisa dikatakannya lewat bahasa. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk meraba artinya. Berfilsafat adalah berfikir radikal, yakni sampai ke akar-akarnya. Sebagai suatu tulisan, filsafat bersifat tekstual. Satuan maknanya bukan kata maupun kalimat, tetapi kumpulan semuanya sebagai teks yang maknanya ditentukan oleh keterkaitannya dengan teks-teks lainnya. Filsafat pun tampil selalu ambisius untuk memayungi persoalan seluas mungkin. Agar tampil singkat tapi menjangkau banyak hal, maka diperlukan metafora.
Beberapa ungkapan dari para filsuf terkenal, para pentolan eksistensialisme berikut ini.
·         Jean-paul Sartre (1905-1980)
“existentialism is not so atheistic that is wears itself out showing that god does not exist. Rather, it declares that even if god did exist, that would change nothing.” (eksistensialisme itu tidaklah sedemikian atheistik sehingga mengarahkan segala-galanya untuk menunjukkan bahwa tuhan itu tidak ada. Namun eksistensialisme menyatakan bahwa, meskipun tuhan ada, tidak aka nada yang berubah karenanya.)

·         Soren aabye Kierkegaard (1813-1855)
‘…Christ came through locked doors” ( …Kristus tiba lewat pintu-pintu yang terkunci)

·         Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)
“what is good?” you ask. “to be brave is good.” (apa yang baik?” kau bertanya. “berani itulah yang baik.”)
“one repays a teacher badly if one always remains nothing but a pupil.” (tak sempurnalah seseorang membalas jasa gurunya, bilamana ia terus-menerus bertahan sebagai muridnya saja.)

·         Nicholas alexandrovitch Berdyaev (1874-1948)
“… the final goals of man’s life are not social, but spiritual.” (… tujuan final hidup manusia bukanlah social sifatnya, melainkan spiritual.)

·         Karl jaspers (1910-1969)
“to be a man is to become a man.” (ada sebagai manusia adalah menjadi manusia)

Menguasai Bahasa
Dalam pemakaian sehari-hari, menguasai bahasa sering diartikan sebagai mampu berbicara dalam bahasa itu. Secara lebih serius disini diartikan sebagai kemampuan menggunakan simbol secara bermakna untuk berkomunikasi jadi dalam konteks ini penguasaan bahasa bergantung pada empat kata kunci: penggunaan, simbol, makna, dan komunikasi.
                                                 
Teori Bahasa
Tampak dari batasan diatas bahwa problem dalm penguasaan bahasa sesungguhnya problem menguasai makna. Karena bahasa sebagai alat berfikir manusia maka problemnya adalah juga problem minda (mind). Diharapkan bahwa studi dan teori bahasa akan menjelaskan hakikat minda. Dan demikian juga sebaliknya teori tentang bahasa adalah abstraksi para ahli bahasa sebagai hasil pengamatan terhadap gejala bahasa. Dengan jalan pemikiran ini, ilmu bahasa tunduk kepada sejumlah asumsi tentang objek empiris (bahasa) sebagai berikut:
·         Keragaman
Beberapa fenomena memiliki keragaman dalam sifat, struktur, bentuk dan sebagainya. Keragaman ini menghasilkan klasifikasi yang sangat mendasar bagi ilmu pengetahuan untuk melahirkan taksonomi. Dari taksonomi para ilmuan membanding-bandingkan objek studi sehingga muncul komparasi dan dari komparasi dan taksonomi para ilmuan dapat melakukan prekdiksi.

·         Kelestarian Relatif
“segala sesuatu berubah kecuali dzat pencipta”. Demikianlah fenomena alam termasuk bahasa berubah-ubah dengan tingkatan yang berbeda. Benda-benda angkasa berubah atau berevolusi jauh lebih lama dari pada perubahan es menjadi air dalam geas minuman. Ilmu pengetahuan mencari hokum-hukum dari objek yang relatif lestari sehingga dapat dijadikan pegangan. Setiap bahasa mengenal fenomena bahasa gaul atau slang, yang sangat musiman dan berubah dari waktu ke waktu, dari pengguna ke pengguna.

·         Sebab-Akibat
Dalam al-qur’an di firmankan, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) sesuatu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka.” (QS. Al-Raad: 11). Diterminisme mengatakan bahwa sebuah fenomena bukanlah kejadian asal jadi dengan sendirinya. Ada keteraturan sehingga ada keterkaitan sababiah atau sebab akibat, X menyebabkan Y. walau begitu, dalam ilmu pengetahuan tidak harus selalu ditemukan X akan selalu menyebabkan Y.

Teori Bahasa Dan Metode Ilmiah
Sudah dibahas bahwa manusia memaknai alam semesta dengan kemampuan bahasa. Erikson seperti dikutip hoover 1980 membedakan tiga jenis konsep: factuality, reality, dan actuality.
·         Fakta, realita, dan aktualita
Factuality atau fakta adalah konsep yang paling akrab berkait dengan kegiatan dan metodologi saintifik, yaitu semesta fakta-fakta, data, dan teknik-teknik yang dapat diverifikasi dengan metode observasi.
Reality atau realita adalah urutan kedua setelah fakta dalam memahami hubungan manusia dengan semesta ini. Relitas kurang konkrit disbanding fakta, tetapi lebuh sederhana bagi intuisi kita.
Actuality atau aktualita adalah pengetahuan yang diperoleh lewat tindakan. Ia lebih membantu kita bagaimana kita bertindak atas apa yang kita ketahui.


·         Peran teori
Yang dimaksud dengan metode saintifik merujuk pada langkah-langkah sistematik sebagai berikut:
1.      Identifikasi variabel yang diteliti.
2.      Pengajuan hipotesis yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lain atau situasi lain.
3.      Mengetes realitas, yakni dengan mengukur hubungan hipotesis dengan hasil yang diperoleh.
4.      Melakukan evaluasi dimana hubungan yang telah terukur itu dibandingkan dengan hipotesis awal lalu dimunculkanlah sebuah generalisasi.
5.      Mengajukan saran ihwal makna (signifikansi) teoretis dari temuan, faktor-faktor yang terlibat dengan pengetesan yang mungkin menyebabkan distorsi temuan, dan sejumlah hipotesis lain yang berkembang.

Teori adalah seperangkat proposisi yang saling terkait yang menerangkan mengapa kejadian demi kejadian begitu adanya. Teori ada berserakan dimana-mana, hanya saja tidak terlihat tanpa kacamata metodologi ilmiah, dari hal kecil seperti cara memukul bola golf sampai dengan hal-hal besar seperti teori relativitas dari Einstein. Teori-teori besar adalah yang berkaitan dengan pertanyaan sekitar agama dan filosofis, ihwal asal mula keberadaan alam semesta, sejarah spesies, tujuan hidup, norma perilaku yang mengarahkan kepada kebajikan dan mubgkin kebahagiaan. Tujuan ilmu pengetahuan adalah menghasilkan teori untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi. Teori adalah kreasi manusia untuk menjelaskan pemahaman ihwal fenomena. Ada empat fungsi teori sebagai berikut (hoover 1980: 39).
1.      Teori menyajikan pola-pola untuk memaknai data.
2.      Teori menghubungkan satu studi dengan studi lainnya.
3.      Teori menyajikan berbagai kerangka yang memayungi konsep dan variabel untuk memperoleh makna yang spesifik.
4.      Teori memungkinkan kita menginterpretasi makna yang besar dari temuan penelitian kita yang bermakna bagi kita maupun bagi orang lain.

·         Teori bahasa
Sebagai teori maka teori bahasa sama saja dengan teori fenomena lain, katakanlah teori gravitasi bumi. Teori haruslah empiric dan spekulatif. Teori bahasa layaknya teori ihwal alam juga. Dalam ilmu bahasa dikenal folk linguistics yaitu deskrifsi atau kepercayaan orang awam ihwal bahasa yang tidak berdasarkan penelitian. Pengetahuan berkembang bermula dari folk theory yang dikritik habis-habisan sehingga menjadi teori saintifik.

·         Teori Chomsky
Bagi Chomsky bahasa adalah cermin minda. Dengan studi bahasa yang mendetail. Kita mungkin dapat mengungkap bagaimana minda manusia memproduksi dan mengolah bahasa. Studi bahasa bertujuan mengembangkan (1) teori bahasa, dan (2) teori pemerolehan bahasa. Secara logis, tugas (1) mendahului tugas (2) teori bahasa yang memadai seyogyanya mampu menjawab pertanyaan seperti: apakah bahasa itu?.
Teori yang paling tinggi derajatnya adalah yang memenuhi explanatory adequacy. Untuk itu gramatika haruslah nyata secara psikologis juga dibatasi secara maksimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar